Anambas, News Faktual Net – Suasana di jalanan Tarempa tampak seperti biasa. Warga tampak beraktivitas. Namun, tanpa disangka, ada momen berbeda yang membuat hari mereka lebih berwarna. Satu per satu pengendara dihentikan oleh personel Satlantas Polres Kepulauan Anambas. Sekilas, pemandangan itu seperti razia pada umumnya. Wajah-wajah tegang pun sempat terlihat, khawatir ada penindakan pelanggaran.
Namun ketegangan itu segera luluh ketika para petugas justru menyodorkan helm baru, lengkap dengan senyum ramah dan pesan keselamatan. “Ini helmnya, Bu. Dipakai selalu ya,” ujar seorang polisi dengan nada bersahabat. Helm yang semula menjadi simbol kewajiban, pagi itu berubah menjadi hadiah yang menghangatkan hati.
Salah satu penerima helm, seorang ibu yang mengendarai sepeda motor bersama anaknya, semula tampak gugup. Namun ekspresinya berubah seketika.
“Saya kira mau ditilang, ternyata malah dikasih helm baru. Terima kasih banyak. Saya janji akan selalu pakai helm mulai sekarang,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Pengalaman sama dirasakan oleh seorang pemuda yang juga diberhentikan dalam kegiatan itu.
“Kadang kami lalai, tapi dengan cara seperti ini kami merasa diingatkan tanpa dimarahi. Terima kasih polisi Anambas,” ucapnya sambil memeriksa helm barunya tampak kokoh dan nyaman.
Kapolres Kepulauan Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka, S.I.K., M.H., melalui Kasatlantas IPTU Zulfikar Andri menegaskan bahwa pembagian helm ini bukan sekadar kegiatan bagi-bagi hadiah. Ada pesan kuat ingin disampaikan.
“Meskipun Operasi Zebra Seligi 2025 telah selesai, kami selalu mengimbau agar masyarakat tetap mematuhi peraturan lalu lintas. Keselamatan itu bukan hanya saat ada operasi, tapi setiap hari. Pembagian helm ini untuk mengingatkan bahwa hidup mereka sangat berharga,” ungkapnya.
Langkah persuasif ini dipilih karena dinilai lebih efektif dalam membangun kesadaran berlalu lintas. Tidak ada suara tinggi, tidak ada ancaman sanksi, justru dialog hangat, senyum, dan perhatian.
Aksi humanis itu langsung menuai apresiasi dari masyarakat. Banyak yang merasa pendekatan semacam ini jauh lebih menyentuh ketimbang penegakan hukum yang kaku.
“Kalau diingatkan dengan cara baik seperti ini, kita jadi lebih sadar. Terima kasih sudah peduli dengan keselamatan kami,” kata seorang warga lainnya yang menerima helm.
Bagi masyarakat Anambas, momen itu menjadi bukti bahwa polisi bukan hanya penegak hukum, melainkan juga sahabat di jalan. Mereka hadir bukan sekadar menindak, tetapi juga merangkul, mengedukasi, dan mengajak warga untuk peduli pada keselamatan diri sendiri dan keluarga.
Di balik helm-helm dibagikan itu, ada pesan besar ingin ditinggalkan, keselamatan adalah pelindung hidup, bukan sekadar aksesori. “Keselamatan adalah hadiah paling berharga untuk keluarga di rumah,” menjadi seruan tak tertulis dari aksi tersebut.
Pembagian helm oleh Satlantas Polres Kepulauan Anambas bukan hanya program, tetapi sebuah pendekatan baru yang lebih manusiawi dalam menumbuhkan budaya tertib berlalu lintas. Ketika edukasi dikemas dengan kehangatan, pesan itu tidak hanya sampai, tetapi juga tinggal lebih lama di hati penerimanya.
Di Tarempa, hari itu, para pengendara bukan hanya pulang dengan helm baru, tetapi juga dengan kesadaran baru, bahwa keselamatan diri mereka sangat berarti, dan selalu ada pihak yang peduli untuk mengingatkannya dengan cara yang paling hangat.(TM)
Editor : Roy
Artikel Sentuhan Humanis Satlantas Anambas di Jalanan Tarempa pertama kali tampil pada Metro Indonesia.









