Dari Geladak KRI Imam Bonjol-383, Semangat Kemaritiman Itu Menyala di Natuna

banner 468x60

Natuna, News Faktual Net – Cuaca di Dermaga Faslabuh Selat Lampa tampak cerah. Hembusan angin laut membawa aroma garam yang khas. Di kejauhan, tubuh kokoh KRI Imam Bonjol-383 sudah tampak sejak matahari belum tinggi. Kapal perang berkelir abu-abu itu berdiri megah, seolah menyambut setiap warga Natuna yang datang berbondong-bondong menuju dermaga.

Hari itu bukan hari biasa. TNI Angkatan Laut melalui Lanal Ranai membuka kesempatan langka, Open Ship dalam rangka memperingati Hari Armada Republik Indonesia 2025. Sebuah momentum ketika masyarakat dapat melangkahkan kaki mereka ke geladak kapal perang yang selama ini hanya terlihat dari kejauhan.

Di pintu masuk kapal, Letkol Laut (P) Rayindra Asmara, Komandan KRI Imam Bonjol-383, menyambut warga dengan senyum hangat. Para pelajar, orang tua, hingga nelayan tampak antusias mendengar penjelasan awal dari sang Komandan tentang fungsi kapal dan peran prajurit di laut.

“Melalui Open Ship ini, kami ingin masyarakat merasakan langsung kapal perang yang setiap hari menjaga laut Nusantara,” ujar Letkol Rayindra. Suaranya tegas, namun mengalir dengan kehangatan seorang prajurit yang ingin mengenalkan lautan kepada generasi penerus.

Di geladak, beberapa anak sekolah tampak terpukau melihat meriam dan perlengkapan tempur. Ada yang berulang kali meminta izin untuk berfoto; ada pula yang sibuk mengajukan pertanyaan soal navigasi dan radar. Para prajurit pun menjelaskan dengan sabar, seolah mereka bukan sedang berbicara sebagai tentara, melainkan sebagai kakak, ingin berbagi cerita tentang dunia mereka cintai.

Rama, seorang siswa SMP di Ranai, mengaku ini kali pertamanya menginjakkan kaki di kapal perang.

“Biasanya cuma lihat di TV. Besar sekali ya… rasanya kayak di film,” ujarnya dengan mata berbinar.

Mungkin, dari tatapan anak-anak seperti Ramalah masa depan kemaritiman Indonesia sedang tumbuh. Menurut Komandan Lanal Ranai, Kolonel Laut (P) Ady Dharmawan, inilah tujuan strategis dari kegiatan ini.

“Open Ship bukan sekadar jalan-jalan ke kapal. Ini usaha menanamkan semangat kemaritiman. Kami ingin anak-anak Natuna mencintai laut, memahami perannya. Laut adalah masa depan bangsa,” ungkapnya.

Di ruangan navigasi, para pengunjung diperkenalkan dengan peta elektronik, kompas gyro, hingga sistem pertahanan kapal. Mereka juga diajak menyaksikan simulasi bagaimana prajurit bertugas saat kapal berada dalam operasi.

Salah satu momen paling menarik adalah ketika masyarakat berbincang langsung dengan para prajurit. Seorang ibu rumah tangga bertanya bagaimana rasanya tinggal berbulan-bulan di tengah laut. Seorang prajurit muda bercerita sembari tersenyum, bagaimana ia merindukan keluarganya tetapi tetap bangga menjaga perairan Indonesia.

Interaksi seperti ini jarang terlihat. Biasanya, kapal perang dan prajuritnya dipandang dari jauh kini mereka dapat disentuh, disapa, dan ditanya.

TNI AL ingin menunjukkan bahwa mereka bukan hanya penjaga perbatasan, tetapi bagian dari rakyat itu sendiri. Semakin dekat dengan masyarakat, semakin kuat pula dukungan terhadap misi menjaga kedaulatan laut Nusantara.

Kegiatan Open Ship di KRI Imam Bonjol-383 bukan hanya agenda formal dalam rangka Hari Armada RI. Ia adalah upaya menyatukan kembali hubungan emosional antara masyarakat pesisir dan lautan, sesuatu yang kadang tergerus oleh modernisasi dan perubahan zaman.

Dari geladak kapal itu, kita melihat bagaimana Natuna, pulau yang berdiri gagah di perbatasan, menjadi saksi tumbuhnya wawasan kebangsaan dan kesadaran kemaritiman di generasi muda.

Dan mungkin, di antara anak-anak hari itu memegang teropong di anjungan kapal, ada calon perwira TNI AL di masa depan. Ada kelak menjaga Laut Natuna, Samudra Hindia, atau bahkan perairan internasional. Semuanya dimulai dari satu kunjungan, satu rasa penasaran, dan satu hari di KRI Imam Bonjol-383.(Roy)

Artikel Dari Geladak KRI Imam Bonjol-383, Semangat Kemaritiman Itu Menyala di Natuna pertama kali tampil pada Metro Indonesia.

banner 336x280