Dari Daik Lingga untuk Sumatera dan Aceh: Ketika Solidaritas Menyatu dalam Satu Gerakan Kemanusiaan

Lingga75 Views
banner 468x60

Lingga, News Faktual Net – Langit mendung Daik Lingga, Jumat pagi (5/12/2025), lalu-lalang kendaraan di persimpangan jalan utama menuju Kantor Bupati mendadak melambat.

Bukan karena razia, bukan pula karena adanya acara seremonial besar. Di titik-titik itu, berdiri para Aparatur Sipil Negara, guru, tenaga PPPK, relawan PMI, hingga anggota Pramuka, semuanya turun ke jalan dengan satu tujuan mengulurkan tangan bagi saudara sedang berduka di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Gerakan kemanusiaan ini dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Lingga, H. Armia S.Pd., M.I.P, sebagai bentuk kepedulian mendalam terhadap bencana banjir dan tanah longsor meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Sumatera. Instruksi itu datang cepat dan tegas, setiap OPD, ASN, guru, PPPK, hingga pegawai non-ASN wajib ikut serta.

Namun lebih dari sekadar instruksi, yang tampak di jalanan adalah ketulusan wajah-wajah yang mengulurkan kotak donasi sambil menyebutkan satu kata yang sama: peduli.

Suara Kemanusiaan dari Jalan-Jalan Daik Lingga

Aksi hari pertama berlangsung serentak di empat titik, Persimpangan menuju Kantor Bupati Lingga,Simpang Kantor,
Simpang Tiga arah Pancur,
Persimpangan Sei Tenam.

Dalam waktu beberapa jam, kotak-kotak karton awalnya kosong itu mulai penuh. Ada uang receh dari pedagang kecil, ada lembaran merah dari pegawai kantor, ada sumbangan spontan dari supir yang sekadar melintas, bahkan ada warga yang menepi hanya untuk menyelipkan beberapa ribu rupiah sebagai bentuk rasa sepenanggungan.

“Hari ini kita turun ke jalan untuk saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera. Mudah-mudahan kegiatan ini diridhoi Allah SWT,” ujar H. Armia, yang terlihat ikut berdiri bersama para relawan.

Di hari pertama saja, terkumpul tak kurang dari Rp 25 juta, angka yang menjadi bukti bahwa jarak tidak pernah mampu memutus rasa persaudaraan.

Gerakan Besar yang Akan Berlangsung Hingga 15 Desember

Penggalangan dana ini bukan kegiatan sehari dua hari. Pemerintah Kabupaten Lingga bersama Kopri, PGRI, PMI, dan Pramuka telah menetapkan aksi berlanjut sampai 15 Desember 2025, menyisir 13 kecamatan di gugusan Pulau Lingga.

Semua dana akan disalurkan melalui rekening sosial resmi yang telah ditentukan. “Duka Aceh dan Sumatera adalah duka kita semua,” tegas H. Armia. “Dengan sedikit rezeki yang kita sisihkan, semoga beban mereka dapat ringan dan pahala melimpah bagi membantu.”

Di balik pernyataan itu, terlihat kepedulian yang tidak dibuat-buat. Ia bukan sekadar Sekda yang memberi instruksi, tetapi seseorang yang benar-benar hadir di lapangan, memegang kotak donasi bersama para ASN dan relawan.

Lebih dari Sekadar Donasi Ini Tentang Rasa dan Tanggung Jawab Bersama.

Bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan hanya merusak rumah, tetapi juga menyisakan trauma. Anak-anak kehilangan tempat tinggal, para orang tua kehilangan mata pencaharian, dan ribuan warga masih berjuang memulihkan hidup.

Di tengah duka itu, hadirnya tangan-tangan dari Lingga adalah pengingat: bahwa bangsa ini tetap kuat ketika saling menopang.

Aksi ini bukan tentang besar atau kecilnya nominal. Tetapi tentang pesan yang jauh melampaui angka:
Bahwa kepedulian tak mengenal batas geografis. Bahwa duka satu daerah adalah duka seluruh Indonesia.

Menutup aksi hari pertama, Sekda Lingga kembali mengajak masyarakat untuk ikut bergerak:
“Mari berpartisipasi dan berdonasi. Semoga sedikit bantuan kita menjadi cahaya bagi mereka sedang dalam kesulitan.”

Dari Daik Lingga, gema solidaritas itu kini terus menyebar dari kotak donasi ke kotak donasi, dari hati ke hati.

Jika ingin versi lebih resmi untuk media, lebih pendek, atau lebih dramatis, beri tahu saya siap saya sesuaikan.(Taufik Safira)

Editor: Roy

Artikel Dari Daik Lingga untuk Sumatera dan Aceh: Ketika Solidaritas Menyatu dalam Satu Gerakan Kemanusiaan pertama kali tampil pada Metro Indonesia.

banner 336x280